Senin, 10 Februari 2014

WAHAI PEJUANG MALAS, HARAPAN ITU MASIH ADA!




SELAMAT MALAM, PARA PEJUANG MALAS !!

Memasuki tahun-tahun yang seharusnya sudah masuk ke tahun-tahun selesainya belajar di bangku kuliah, masih banyak, bahkan sangat banyak mahasiswa yang masih berkutat dengan GPA alias IPK alias Indeks Prestasi Kumulatif. Memang banyak yang menjelang tahun ke 4 ini, GPA nya sangat baik. Namun, kita tidak menutup mara, banyak teman-teman kita yang masih "menderita" GPA alias IPK. So, what should be done with this fact?

Disini, kita tak perlu membahas para penikmat IPK, karena mereka memang tidak punya masalah yang bgeitu kompleks. Yang menjadi masalah kali ini adalah bagaimana mengoptimalisasi potensi2 para mahasiswa yang masih bermasalah dengan IPK. Sebagai contoh, di jurusan saya, yah sebut saja Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada. Tanpa menyebut nama dan bermaksud merendahkan, masih banyak kawan-kawan di jurusan saya yang masih bermasalah dengan IPK, baik IPK itu berkisar 2,00-2,50 atau, 2,51-2,99. 
Banyak yang menyebut jurusan ini memang sulit, kawan. Tak hanya kawan-kawan kita yang sudah lulus, maba-maba di jurusan ini sudah merasakan. Gabungan konsep matematika, kimia, dan fisika digabung menjadi sebuah ilmu bernama Teknik Kimia. Tapi, bukan sulitnya itu yang menjadi masalah, akan tetapi seberapa besar usaha kita menghadapi kesulitan itu. Kesulitan itu ada untuk dihadapi. Sebesar apapun anda mengeluh, baik tentang matkulnya, dosennya, kelasnya, gedungnya, bukunya, dll, tak akan mengubah yang sulit itu menjadi mudah. Right?

Wahai para pejuang malas, walaupun kalian sudah memasuki tahun ke 3 atau 4, jangan kalian lemah. Tunjukkan semangat anda menyongsong sisa-sisa semester normal yang masih ada. Walaupun GPA kalian berkisar 2,00-2,99, jangan putus asa. Jangan putus harapan di tengah jalan ini. Tak ada jalan kembali di tahun ke-3 atau 4. Once again, no way back!!  Mungkin kalian masih bermalas-malasan di 5 semester awal kemarin, yang mungkin menyebabkan kalian tidak punya jatah SKS ekstra semester ini. Namun, mari kita sama-sama tingkatkan tingkat keuletan kita semester 6 ini. Sungguh kawan, sudah tak ada jalan kembali. Jalan kembali terakhir ada di akhir semester 4 kemarin, dan kita memutuskan tidak mengambilnya.

Mungkin ada beberapa orang yang meremahkan kalian,walau tak semuanya, mulai teman kalian sendiri, dosen, bahkan mungkin para bos-bos industri tujuan tempat bekerjamu kelak. Mungkin beberapa dari mereka sedang meremehkanmu karena kau tak mampu lulus dalam 8 semester. Bahkan, mungkin ada beberapa dari kalian yang sudah siap-siap jika harus sampai semeser 14. Mungkin orang-orang banyak yang menganggap kalian tak bakal punya pekerjaan, karena pekerjaan itu akan diperebutkan oleh para lulusan-lulusan tercepat nan cumlaude. Mungkin banyak orang yang menganggap kalian sulit mendapat jodoh yang ideal, mengingat kalian kuliah saja lama, bagiamana bisa menghasilkan uang, apalagi memeperistri anak orang? Begitu pikir orang-orag di luar sana. Really, don't listen them.

Kalian mungkin akan lulus dalam 5,6, atau bahkan 7 tahun. Mungkin kalian akan merasakan fase-fase iri, ketika teman-temanmu sudah bekerja di perusahaan ini itu, dirimu masih berkutat dengan bangku kuliah dan berbagai textbook. Ketika teman-temanmu sudah menghasilkan uang, bahkan ada yang menikah, kau masih sibuk dengan penelitian atau TA yang belum selesai. Biarlah kawan. Kalian memang malas, tapi bukan berarti kalian tak punya semangat hidup. Bukan berarti kalian tak akan bisa mendapat uang, tak bisa mendapatkan jodoh impian kita, tak bisa beli rumah,dll. Ayo, walau kalian lulunya bakal agak lama, kalian harus buktikan bahwa mahasiswa lulus cepat tak lebih baik daripada yang lulus lama, dan kalian juga harus buktikan mahasiswa lulus lama itu tidak lebih jelek daripada mehasiswa lulus cepat.

Saya yakin, anda mau lulus dalm berapa tahun, orang tua kalian akan mendukungmu. Mereka akan berusaha mati-matian melihatmu diwisuda sebagai sarjana. Jangan sia-siakan amanah orang tuamu. Mungkin, 5 atau 7 semester kemarin kita menjadi anak yang tak tahu diri. Ayo berbenah di semester 6/8 dan seterusnya. Kita tak tahu akan menjadi apa di masa depan, yang penting kau harus selesaikan jalan ini sebaik-baiknya. Kau harus tuntaskan amanah ayah ibumu yang jauh-jauh meyekolahkanmu disini. Sungguh, puluhan juta uang yang mereka keluarkan, muaranya satu, melihat kalian diwisuda sebagai sarjana. 

Wahai pejuang malas, kau mungkin bisa mengelak dengan mendewakan filosofi "IPK bukanlah segalanya", "GPA is not everything", "There are so many things can we do beside studying", dan filosofi2 lain yang sudah membuat kita sesat. Mungkin kau terinspirasi dengan Top Ittipat yang tak kuliah, tapi punya kekayaan Rp 450 M di tahun 2011. Atau kau terinspirasi oleh Einstein, yang punya dunia sendiri dan mampu membuat teori relativitas yang mencengangkan itu. Atau kau terisnpirasi oleh motivator-motivator kelas dunia, yang menganggap belajar atau kuliah hanya untuk bawahan-bawahan, sementara bos-bos dan CEO-CEO tak perlu belajar terlalu banyak

Filosofi di atas memang tak sepenuhnya salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Kalau kalian ingin jadi mereka, silahkan. Mereka kebanyakan memang lulus kuliahnya lama, atau bahkan ada yg di DO gara-gara terlalu ekstrim. Tapi apa kau rela orang tuamu jauh disana tiba-tiba menerima surat bahwa anaknya di DO? Tentu tidak. Mereka-mereka itu memang lulusnya lama atau GPA nya tidak bagus-bagus amat, tapi mereka punya kelebihan lain, misal mereka punya semangat bisnis yang kuat, jiwa sosial yang sangat2 tinggi, jaringan-jaringan yang luas, dan lain-lain. Kalau kalian kurang bagus di satu sisi, kalian harus wajib kudu punya kelebihan lain untuk menutupi kekurangan itu. 

At last and the most important thing, mungkin kalian akan lulus tidak di semester 8. Mungkin kalian harus menerima kenyataan itu. Kenyataan yang harus diterimadengan lapang dada memang. Ketika kau punya kekurangan, yakni lulusnya agak lama, apa kelebihan yang sudah kau persiapkan untuk menutupi kekuranganmu itu tadi? Sudah punya jaringa-jaringan yang luas? Sudah punya ilmu-ilmu lain yang kau kuasai begitu dalam? Punya bisnis untuk menunjang masa depanmu? Atau, kau punya kelebihan-kelebihan lain yang bisa menutupi kekuranganmu itu.di masa depan kelak. Neraca kelebihan dan kekuranganmu harus kau seimbangkan, bahkan mungkin kelebihanmu harus melebihi kekuranganmu.

So, wahai pejuang malas, harapan itu masih ada. Yak, MASIH ADA!! Selalu ada kemudahan-kemudahan di balik sebuah kesulitan. Jangan risau. Walau kau mungkin masih hidup lebih lama di kampus ini, jangan merasa rendah diri atau malu. Tunjukkan kalian memang punya alasan yang kuat mengapa kalian terlanjur menjadi seperti ini. Kalau kalian sudah lulusnya lama, GPA tak bagus2 amat, jaringan teman gak banyak, ilmu-ilmu lain malas menimbanya, bisnis tak punya, orang tua makin tua, satu per satu teman-teman kita menikah, dan jodohmu nampaknya belum mendekat, apa yang bisa kau lakukan ketika akhirnya diwisuda nanti? Melamar kerja? Melamar anak orang? Mengemis pekerjaan? Silahkan tentukan sendiri. 


      ---- mewakili keluh kesah beberapa teman di UGM dan kampus-kampus lain ----




Rabu, 25 Desember 2013

Gurita Sang Pencari Ilmu

Gurita Sang Pencari Ilmu
          Olimpiade Gurita adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh semua gurita di dunia, termasuk Piti si gurita merah. Acara ini mempertemukan seluruh gurita-gurita terbaik dari seluruh belahan dunia. Ajang ini menjadi ajang keilmuan yang dimiliki oleh gurita-gurita terbaik di masing-masing daerahnya. Gurita-gurita dituntut untuk selalu memperbarui ilmunya agar mampu bersaing di Olimpiade Gurita. Piti sudah tak sabar ikut di dalamnya. 
          Piti belajar dengan giat. Ia selalu mencari informasi kesana kemari tak pernah lelah. Ia selalu bermimpi memenangi Olimpiade Gurita. Ia tidak ingin melewatkan masa hidupnya dengan sia-sia. Piti berguru kepada siapapun yang ia anggap punya ilmu lebih, tak peduli lebih muda atau tua. Piti benar-benar seirus menimba ilmu untuk mempersiapkan dirinya di ajang tersebut.
          Olimpiade Gurita sudah ada sejak lama. Acara ini sudah berlangsung sebanyak 10 kali dimulai pada tahun 2001, dengan jeda antar Olimpiade Gurita sebanyak 1 tahun. Acara ini akan berlangsung untuk ke-11 kalinya pada tahun ini. Persiapan-persiapan yang dimiliki gurita-gurita,termasuk Piti, haruslah sangat matang.
          Olimpiade Gurita ini memiliki beberapa jagoan. Pertama, Imi si gurita hijau. Imi berasal dari Laut Bermuda, Amerika Tengah. Imi telah menjuarai Olimpiade Gurita sebanyak 3 kali, yakni tahun 2001, 2002, dan 2003. Jagoan kedua adalah Fini si gurita hitam dari Laut Filipina, Asia Tenggara. Fini telah menjuarai Olimpiade Gurita sebanyak 2 kali, yakni pada tahun 2005 dan 2006. Fini selalu menjadi peringkat 2 di Olimpiade Gurita sejak tahun 2007-2010, sehingga di tahun 2011 ini dia berambisi untuk merebut predikat juara Olimpiade Gurita. Sedangkan Piti bukan menjadi unggulan di dalam kejuaraan ini.
          Juara terbanyak Olimpiade Gurita adalah Gili si gurita coklat. Gili adalah gurita yang berasal dari Samudera Pasifik, tepatnya di Utara negara Vanuatu. Gili menjadi juara Olimpiade Gurita sejak tahun 2007-2010. Ia sudah memenangi ajang tersebut sebanyak 4 kali. Gili sangat berambisi untuk menambah koleksi gelar juaranya pada tahun ini.
          Olimpiade Gurita pun akan segara dimulai. Seluruh gurita dari seluruh belahan dunia berkumpul di tempat kejuaraan. Tuan rumah Olimpiade Gurita kali ini adalah Laut Banda, Indonesia. Seluruh gurita mulai berdatangan di Laut Banda sehari sebelum Olimpiade Gurita dimulai. Para gurita tuan rumah menyambut para peserta dengan ramah. Tuan rumah sangat menghargai dan mengutamakan kenyamanan para tamu selama berada di Laut Banda, Indonesia.
          Pembukaan Olimpiade Gurita esok harinya berlangsung meriah. Pembukaan diawali oleh sambutan Pak Ode si gurita kuning. Beliau menyambut seluruh peserta dan mengajak untuk sportif dalam meraih kemenangan. Pembukaan dilengkapi dengan atraksi kembang api yang luar biasa indah. Olimpiade Gurita pasti berlangsung sangat meriah.
          Olimpiade Gurita pun dimulai. Babak penyisihan pun dimulai. Para peserta sebanyak 32 gurita dibagi menjadi 8 grup. Masing-masing grup diisi oleh 4 gurita. Imi, Fini, Gili, dan Piti berada di 4 grup yang berbeda. Setiap grup akan diwakili 2 gurita terbaik di masing-masing grup, sehingga total ada 16 gurita terbaik yang lolos ke babak ke-2. Di babak kedua, setiap gurita akan saling berhadapan satu lawan satu, sehingga nanti diperoleh 8 gurita terbaik di babak semifinal. Lalu, 4 gurita terbaik akan didapatkan dari babak semifinal untuk bertarung di babak final.
          Para peserta menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya di Olimpiade Gurita kali ini. Tiga gurita unggulan, yakni Imi, Fini, dan Gili yang diprediksi bakal melenggang ke final benar-benar tidak kesulitan untuk melewati babak penyisihan. Para jagoan itu mulai menemui kesulitan di babak ke-2. Namun, mereka bertiga mampu melewati hadangan lawan-lawannya. Dengan kualitas yang sangat prima, 3 jagoan itu mampu melewati babak semifinal dan melenggang ke final. 
          Finalis yang ke-4 adalah Piti si gurita merah yang berasal dari Laut Natuna, Indonesia. Para penonton tak mengira Piti bisa menembus babak final. Namun, melihat sepak terjang Piti sejak babak penyisihan, maka tak salah ia pantas masuk sebagai finalis. Seluruh penonton tertuju kepada Piti.
          Babak final akhirnya tiba. Babak yang ditunggu-tunggu oleh seluruh gurita di seluruh dunia akhirnya datang. Ada 4 gurita terbaik yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya di babak-babak sebelumnya. Para finalis terdiri dari Imi, Fini, Gili, dan Piti. Para finalis diharuskan menjawab soal-soal dari juri. Siapa yang mampu menjawab dengan benar dan memiliki jumlah terbanyak, ialah pemenangnya.
          Babak final berlangsung seru. Ada 65 soal yang diajukan juri dengan sistem rebutan.  Masing-masing jawaban benar dari peserta bernilai 1 poin. Para finalis harus berfikir keras dan cepat untuk mampu menjawab dengan benar. Para finalis silih berganti menjawab soal-soal dari juri. Para penonton bersorak gembira jika melihat jagoannya mampu menjawab dengan benar. 
           Babak final kali ini benar-benar menegangkan. Piti kelihatan kesulitan di awal-awal. Namun, ia berhasil bangkit di pertengahan babak. Skor masing-masing gurita berbeda sangat tipis. Di Olimpiade-Olimpiade sebelumnya, ketika soal memasuki nomor 55 biasanya sudah bisa ditebak siapa pemenangnya, karena selisih poin yang jauh. Namun, sekarang sangat berbeda. Hingga pertanyaan ke 60, skor ke-4 finalis berbeda sangat tipis,sehingga masih sulit diprediksi siapa pemenangnya. Piti terlihat tegang karena belum pernah menghadapi kondisi seperti ini
          Babak final pun mencapai klimaksnya. Soal ke-64 mampu dijawab Gili dengan benar, sehingga Gili pun berhasil menyamakan skor dengan ke-4 finalis menjadi sama 16 poin. Pertanyaan ke-65 pun mejadi pertanyaan penentu siapa juara Olimpiade kali ini. Para finalis dengan siaga menunggu dan mendengarkan pertanyaan dari juri. Mereka yakin pertanyaan ke-65 ini pasti pertanyaan tersulit di Olimpiade Gurita kali ini.
“Apakah Pluto termasuk planet? Sebutkan alasannya”, tanya juri.
“Hmmm...”, gumam para penonton setelah mendengarkan pertanyaan yang ternyata begitu mudah untuk dijawab.
“Ya, betul pak. Pluto termasuk planet karena ia memiliki orbit, mengelilingi matahari, dan tidak mengeluarkan cahaya”, jawab si Gili dengan tegas diikuti oleh muka kecewa finalis lainnya, termasuk Piti, karena kurang cepat menjawab soal tersebut.
“Jawaban anda, salah. Silahkan finalis lain yang memiliki pendapat lain”, kata juri.
          Para finalis dan penonton sangat kaget dengan jawaban juri. Mereka semua pasti tahu bahwa Pluto adalah planet ke-9 di tata surya kita. Namun, para juri malah menyalahkan jawaban itu. Terlihat si Gili sangat terpukul dengan jawaban itu. Ia takut kehilangan gelarnya. Terlihat Fini, Imi, dan Piti sedang berpikir keras. Mereka mengingat-ingat kembali ilmu tentang tata surya mereka. Tiba-tiba, Piti mengangkat tangannya untuk menjawab soal juri tersebut.
“Pluto bukanlah anggota tata surya lagi. Ia memang memiliki orbit yang mengelilingi matahari, namun orbitnya tidaklah seperti planet-planet lain yang orbit melingkar. Orbit Pluto memotong orbit planet lain, seperti Uranus dan Neptunus, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai planet. Tahun 2010, ilmuwan NASA juga sudah mengeluarkan Pluto dari golongan planet di tata surya kita. Sehingga, Pluto bukanlah planet lagi sekarang”, jawab Piti dengan lancar.
          Para juri berdiskusi sejenak setelah mendengar jawaban Piti. Penonton dan para finalis lain pun kaget dengan jawaban Piti. Para juri pun membenarkan jawaban Piti dan Piti pun menjadi juara Olimpiade Gurita untuk pertama kalinya. Piti tak percaya bahwa ia menjadi juara Olimpiade Gurita. Ia sangat bangga dan senang denga prestasinya ini. Ia sama sekali tidak menyangka bisa mengalahkan jagoan-jagoan yang sangat diunggulkan.
          Sesi penyerahan hadiah dan medali pun tiba. Fini mendapat juara 3, Imi mendapat juara 2, dan Piti mendapat juara 1. Setelah menerima medali, Piti diberi kehormatan untuk berbicara di hadapan seluruh penonton dan peserta Olimpiade Gurita.
“Terima kasih kepada ayah dan ibu saya yang telah membantu saya meraih prestasi ini. Terima kasih juga untuk guru-guru, teman-teman, dan semua orang yang telah membantu saya. Saya tidak menyangka bisa mendapat gelar ini. Saya bukanlah orang-orang jenius seperti teman-teman peserta Olimpiade Gurita ini. Saya tidak memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Namun, saya suka mencari ilmu-ilmu yang baru dari siapapun dan manapun. Saya selalu peka terhadap apa yang ada di dunia ini, sehingga saya juga tahu apa yang menjadi hal baru di dunia ini, termasuk tentang Pluto tadi. Oleh karena itu, teman-teman semua, janganlah kita merasa sudah pandai dan merasa tidak butuh ilmu yang baru. Yakinlah, dunia ini selalu berubah dan selalu ada yang baru. Hilangkan rasa sok pandai kita, dan mari tingkatkan rasa keingintahuan kita”, kata Piti di depan seluruh penonton dan peserta diikuti tepuk tengan meriah dari seluruh peserta dan penonton.

                    Piti telah menunjukkan bahwa bakat alami hanyalah sebagian kecil penentu kesuksesan. Kerja dan belajar keraslah yang membuat kita sukses. Bakat hanya mampu menunjukkan potensi kita sesaat. Namun, bakat tanpa dipoles dengan kerja dan belajar yang keras, tidak akan pernah mengantarkan kita kepada kesuksesan. 


Rabu, 11 Desember 2013


Balik Modal dan Pengabdian, 2 Pilihan Sulit Dokter Setelah Lulus
               Jurusan Pendidikan Dokter (PD) selalu menjadi jurusan paling favorit bagi kebanyakan anak-anak SMA di Indonesia, terutama Jurusan Pendidikan Dokter di kampus-kampus favorit, mulai yang negeri seperti UI, UGM, UNAIR, UNDIP, UNPAD, UB, dan UNSRI, hingga kampus-kampus swasta seperti Universitas Trisakti, Universitas Muhammadiyah, dan lain-lain. Banyak siswa-siswi yang rela menghabiskan waktunya ketika SMA demi meraih cita-cita menjadi seorang dokter. Bagi mereka, masuk PD adalah kebanggan tersendiri. Mereka tahu betapa keras dan kejamnya persaingan untuk memperebutkan bangku kuliah di PD. Bahkan, tak jarang kita dengar tak sedikit uang yang disiapkan dan dikucurkan para orang tua demi melihat anaknya menjadi seorang dokter.
               Sudah menjadi rahasia umum bahwa biaya untuk kuliah di PD tidak murah. Universitas-universitas negeri saja memasang tarif yang tidak sedikit, apalagi yang swasta. Memang ada kampus yang biaya kuliah di PD nya relatif lebih murah daripada PD di universitas lain, namun jumlah biaya tersebut masih tergolong tinggi bagi ukuran rakyat Indonesia. Kecuali yang mendapatkan beasiswa bidik misi, biaya yang harus ditanggung mahasiswa PD lebih tinggi daripada jurusan-jurusan lain. Hal ini mungkin disebabkan bearnya biaya praktikum di PD, membeli mayat, mahalnya alat, dan lain-lain.
               Pengorbanan orang tua yang anaknya ingin menjadi dokter itu tidak mudah. Orang tua harus siap secara mental dan materi. Mereka harus siap menerima kenyataan bahwa anaknya yang ingin menjadi dokter bakal menghadapi pilihan sulit ketika lulus, yakni balik modal atau ingin mengabdi. Mereka juga harus siap mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, bahkan tidak jarang ada orang tua yang sampai menjual mobilnya demi biaya pendidikan anaknya di PD. Di sisi lain, ada beberapa mahasiswa PD yang berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak dikenakan biaya sama sekali selama kuliah di PD. Namun, ujian orang tua mereka juga tidak kalah berat. Orang tua mereka harus siap melewatkan waktunya tanpa anaknya yang ingin menjadi dokter. Orang tua mereka juga harus siap bekerja tanpa dibantu anaknya, dimana ketika SD hingga SMA, anaknya sering membantunya mencari nafkah.
               Ada sebuah kisah singkat yang menggambarkan besarnya pengorbanan orang tua untuk melihat anaknya kelak menjadi dokter. Teman SMA kami, sebut saja Ari, ingin melanjutkan kuliah di PD di suatu universitas negeri ternama di Indonesia. Ia berhasil masuk PD melalui jalur SNMPTN Tulis. Singkat cerita, ia pun mendaftar ulang ke universitas itu. Dilihat dari penghasilan orang tuanya sebagai PNS, sekitar Rp 5 juta per bulan, ia termasuk golongan menengah. Uang gedung, begitu ia menyebutnya, jumlahnya cukup besar, sekitar Rp 128 juta. Jumlah yang sangat besar bagi orang tua yang bekerja sebagai PNS. Orang tuanya pun memutuskan untuk mengangsur uang gedung itu selama 2-3 tahun, sekaligus dengan uang muka. Angsuran per bulannya sekitar Rp 2 juta, sehingga gaji orang tuanya otomatis langsung terpotong Rp 2 juta untuk melunasi uang gedung, dan sisa Rp 3 juta untuk menghidupi keluarga. Sungguh pengorbanan materi yang sangat besar dari orang tua demi si Ari, sampai-sampai orang tuanya harus berhemat tiap bulannya.
               Banyak kesan positif dan negatif yang disematkan masyarakat kita kepada para calon dokter, walaupun kesan itu sebenarnya tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Kesan positifnya adalah dokter merupakan pekerjaan yang mulia, kalau ada keluarga yang sakit bisa diobati tanpa bayar, kalau ada teman yang sakit bisa nego fee jasa dokter memakai istilah “harga teman”, dan lain-lain. Kesan negatif yang disematkan beberapa orang kepada dokter adalah kelak bakal sulit mencari pekerjaan karena sudah banyak dokter praktek, rumah sakit dan puskesmas kelak tidak mampu menampung dokter lagi, dokter itu mata duitan, fee dokter kadang naik tiba-tiba, dan lain-lain. Beberapa atau semua kesan di atas bisa jadi benar, namun juga bisa jadi salah. Semua tergantung dari bagaimana para calon dokter memahami dan merancang masa depannya sebagai seorang dokter.
               Kita berbicara tentang masa depan seorang dokter. Maka, tak ada salahnya kita memetik informasi tentang bagaimana kehidupan di PD dan masa depan yang diharapkan oleh mahasiswa-mahasiswi PD dari pengakuan seorang calon dokter, yang kebetulan adalah teman SMA kami. Sebut saja namanya Bunga. Bunga adalah mahasiswi PD universitas swasta di Indonesia. Ia baru masuk PD setahun setelah ia lulus dari SMA. Di percobaan pertamanya dulu, ia gagal masuk PD. Ia hanya masuk Jurusan Kebidanan. Ia merasa tidak cocok dan memutuskan untuk mencoba peruntungannya masuk PD untuk kedua kalinya tahun depan. Ia pun berhasil masuk PD.
               Pengakuan Bunga tentang kehidupan kuliah di PD sangat unik. Di awal-awal masa kuliahnya, ia sudah terbiasa belajar di antara pukul 02.00=03.00 pagi. Pagi sampai malam selalu dipenuhi tugas-tugas yang menumpuk, sehingga ia harus rela mengurangi waktu tidurnya demi belajar. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa biaya gedung yang ia bayar sangat mahal, lebih dari Rp 100 juta. Ia juga mengaku bahwa banyak sekali alat-alat kedokteran yang harus ia beli dan miliki sealam kuliah di PD, seperti stetoskop, tensimeter, dan lain-lain. Akan tetapi, ia mengaku bisa mendapat tambahan uang jika menjadi asisten dosen (asdos). Praktikum yang harus ia jalani di awal-awal kuliah ini cukup banyak, seperti farmakologi, histologi, anatomi, dan fisiologi. Ia juga merasa solidaritas di PD sangat kuat, terutama kalau ada teman yang pemahamannya kurang, karena jika pemahamannya kurang, bisa berbahaya bagi pasien yang ditangani nanti.
               Untuk meraih masa depan yang cerah, tak cukup bagi Bunga untuk menguasai ilmu kedokteran saja. Ia wajib mengasah soft skill nya lewat organisasi di kampus. Ia mengikuti organisasi kampus, contohnya PTBMMKI (Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia). Untuk masa depannya, ia ingin menjadi dokter spesialis dan dosen, namun tergantung situasi ke depannya. Ia juga ingin meraih beasiswa ke luar negeri yang disediakan universitasnya jika ingin mengambil spesialis.  Ia juga melihat masa depan dengan perasaan sebagai seorang manusia. Ia merasa jika ingin kadi dokter, jangan berharap untuk cepat dapat pekerjaan dan uang yang banyak. Sekolah dokter diakuinya berat, namun gajinya nanti tak seberapa. Ia memiliki prinsip bahwa ia ingin menolong orang sambil bekerja, agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia juga yakin rezeki akan mengalir dengan sendirinya asal ikhlas menolong orang lain.
               Pengakuan Bunga sungguh luar biasa. Ia secara tidak langsung berbicara kepada kami bahwa ia ingin mengabdi lebih kepada masyarakat. Ia tidak terlalu mengharapkan balasan materi yang berlebihan. Namun, ia juga pernah menuturkan di lain waktu, bahwa ia berprinsip seperti itu karena memang kodrat wanita bukan untuk fokus mencari nafkah untuk keluarganya kelak. Ia berprinsip bahwa suaminya kelaklah yangbertanggung jawab terhadap nafkah keluarga. Secara tidak langsung, ia menginginkan suami yang memiliki penghasilan yang lebih untuk menopang kehidupan keluarganya kelak. Namun, ia tidak mengharapkan suami yang hartanya sangat banyak. Asal cukup untuk kebutuhan sehari-hari, ia sudah merasa cukup. Ia merasa bahwa wanita memang bukan diciptakan sebagai “mesin uang” utama untuk keluarganya. Maka, ia merasa mengabdi kepada keluarga dan masyarakat lebih penting.
               Pengakuan Bunga mungkin bisa mewakili pemikiran-pemikiran mahasiswi PD lainnya, walaupun tak semuanya berpikiran sama seperti itu. Ada yang berpikir uang adalah tanggung jawab laki-laki, walaupun juga ada yang ingin mendapatkan uang dari profesinya. Yang menjadi masalah utama adalah para calon dokter laki-laki. Mereka dihadapkan situasi yang sulit kelak. Di satu sisi, mereka harus mengadi kepada masyarakat. Namun, di sisi lain, ia menjadi tulang punggung keluarganya dalam mencari nafkah. Jika dokter wanita bisa memilih untuk mengabdi atau mencari nafkah saja, maka seorang dokter laki-laki mau tidak mau harus mencari nafkah. Mengabdi kepada masyarakat bisa dilakukan atau tidak, tergantung situasi yang dihadapinya nanti.
               Ada seorang dokter laki-laki yang patut kita apresiasi. Namanya Dokter Lo yang berasal dari Solo. Ia menggratiskan biaya berobat bagi pasien dari kalangan menengah ke bawah, uang kebetulan menjadi mayoritas pasiennya. Ia bahkan memberi resep dengan cuma-cuma kepada pasiennya yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ia merasa tugas dokter adalah sesuai dengan sumpah jabatannya, yaitu melayani masyarakat lebih dahulu, melebihi kepentingan apapun di luar itu. Kesehatan dan keselamatan pasien adalah prioritas utama seorang dokter. Seorang dokter harus melayani pasiennya yang butuh bantuan, tanpa melihat strata sosialnya terlebih dahulu. Ia juga mendapat pesan dari ayahnya bahwa jika ia menjadi dokter, jangan berharap kaya. Jika ingin kaya, maka jadilah pengusaha. Ia benar-benar mempraktikkan apa yang dikatakan ayahnya.
               Bagaimana dengan dokter laki-laki di zaman sekarang, yang sudah mengeluarkan uang banyak untuk pendidikannya, akan tetapi ia wajib menafkahi keluarganya kelak? Mau tidak mau, sebagai seorang laki-laki, ia harus menanggung nafkah keluarganya. Namun, ia juga harus mengaplikasikan ilmunya di masyarakat, sesuai dengan sumpah dokter tadi. Berkaca dari pengakuan Bunga, pengalaman Dokter Lo, dan mungkin pengalaman-pengalaman dokter lainnya, maka pilihan seorang dokter, terutama laki-laki, untuk balik modal biaya kuliah atau mengabdi kepada masyarakat adalah pilihan mereka masing-masing. Kita tidak mampu memaksa mereka untuk mengabdi atau mencari nafkah.
               Pekerjaan menjadi seorang dokter adalah anugerah yang unik. Ia mampu menghasilkan uang, namun juga mampu menolong orang lain secara langsung. Ia mampu melakukan keduanya dengan bersamaan, dimana 2 hal ini tidak bisa dilakukan secara bersamaan oleh profesi-profesi lain. Yang harus dimiliki oleh semua dokter, terutama dokter-dokter Indonesia adalah keyakinan. Keyakinan bahwa profesinya adalah profesi yang mulia. Mereka harus yakin dengan banyak membantu orang lain, maka rezeki Allah tak akan tertahan. Kita sebagai orang yang bukan dokter, sering melihat profesi dokter dari sisi materi, padahal profesi dokter tidak dapat dinilai secara materi saja, walaupun materi yang dikeluarkan untuk belajar menjadi dokter sangat banyak. Karena hanya dengan keyakinan lah, seorang dokter mampu mengaplikasikan ilmu-ilmunya denga baik.
               Semoga dokter-dokter Indonesia memiliki hati yang mulia untuk menolong orang lain. Semoga pemerintah memperhatikan kesejahteraan para dokter kita. Semoga kita yang berprofesi bukan sebagai dokter mampu melihat profesi dokter dengan positif. Dokter bukan profesi yang mudah. Sudah sepantasnya kita memberi apresiasi tinggi kepada mereka. Semoga kesehatan Indonesia semakin maju  ke depannya dengan makin mulianya hati para dokter Indonesia.

image